Senin, 28 Maret 2011

Misa Suwarsa : "Jurig Supa" dari Karawang


MISA SUWARSA


Lahir : Depok, Jawa Barat, 9 April 1959
Istri : Yani Sumarni (38)
Anak : Muhamad Hidayatulah (16); Siti Nurjanah (7)
Pendidikan :
- SD, SMP, SMA di Depok
- S-1 Kimia Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
- S-2 Kimia Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB)
- S-3 Universitas Sorbonne, Perancis dan ITB
- Belajar jamur di Universitas Shanghai, 2004
Pekerjaan :
- Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Jamur Merang, Kelompok Tani Jamur Prima, Desa
Mekar jati, Kecamatan Karawang Barat, Karawang, Jabar



Misa Suwarsa, praktisi mikrobiologi yang juga petani jamur merang di Desa Mekarjati, Kabupaten karawang, Jawa Barat, berhasil menciptakan bibit jamur merang sendiri. Kini dia dikenal sebagai ahli "supa" alias jamur.

OLEH DEDI MUHTADI

Misa seperti menjalani konsep Restorasi Meiji, manabu (belajar), maneru (meniru), dan nusumu (mencuri) ilmu pengetahuan dan teknologi. Doktor teknik kimia Institut Teknologi Bandung (1985) ini berhasil menciptakan bibit jamur merang sendiri. Setelah 30 tahun dia mengembangkan bibit itu, kini mantan pegawai badan Tenaga Nuklir Nasional itu berhasil menjadi jurig supa (bahasa Sunda) atau hantu jamur. Misa dianggap sebagai ahli atau tukang jamur.
Selain pernah dikucilkan keluarga, ia juga dikucilkan almamater akibat tindakan "restorasinya" dari ranah intelektual akademis ke pematang sawah. "Ijazah S-3 hingga kini belum pernah saya pegang karena harus ditebus Rp.200 juta. Saya tidak mau..........," ujarnya.
Kisahnya dimulai tahun 1989-an ketika ia memutuskan keluar dari pengajar di ITB dan beralih menjadi petani jamur. "Saat itu gaji saya sudah Rp.1.920 juta, ketika (nilai satu) dollar AS masih Rp.1.500,"kenangnya.
Keputusan itu mengundang kemarahan orangtuanya,ia lalu diusir dari keluarganya di Depok. hanya dengan bekal Rp.10.000, ia pun harus meninggalkan keluarga besarnya. "Itu uang dari ibu saya," katanya.
Misa dianggap intelektual dungu. Dengan bekal uang dan baju seadanya, ia pergi ke Karawang. Daerah lumbung padi ini merupakan kawasan potensial budidaya jamur merang.
Setibanya di Karawang, Misa langsung mencari kubung, bekas budidaya jamur yang sudah tidak dipakai di Tanjungpura, perbatasan Karawang-Bekasi. Dia berjalan kaki berkilo-kilo meter menyusuri irigasi mencari pemilik kubung untuk meminjamnya.
Hari sudah malam setiba di dekat kubung. "Saya tidur di kandang kambing karena petani ini anaknya 12 orang," kenangnya.
Petani miskin yang ditemuinya itu tertarik dengan cerita Misa soal budidaya jamur, tetapi tidak punya modal untuk membudidayakannya. Sementara empat kubung yang tersedia di sana harus disewa Rp.200.000 per kubung.
Misa pun kemudian meminjam uang "monyet" (pinjaman rentenir) . Jika pinjam Rp.200.000, harus kembali Rp.300.000 dalam sebulan.
Mereka butuh modal Rp.600.000 untuk media tanam, yakni jerami dan kapas. uang yang tersedia adalah uang "setan" atau "uang iblis".
Warga desa menyebut uang pinjaman itu demikian karena pengembalian uang panas itu amat menjerat. Jika pinjam Rp.600.000, harus kembali Rp.1,2 juta dalam sebulan.
Misa benar-benar dipersimpangan jalan. Yang bisa dia lakukan hanya shalat tahajud (shalat malam) selama tiga malam. Tuhan pun memberikan jalan untuk melangkah. Dia mendapat pinjaman tanpa agunan.
Dia memperbaiki kubung dengan mengangkut jerami sendiri dari sawah. Daun kelapa untuk biliknya dia ambil dengan memanjat pohon sendiri. "Badan saya lecet-lecet," ceritanya.
Singkat kata, delapan hari kemudian, bibit jamur yang dia buat sendiri tumbuh dengan baik dan dijual di pasar Cikampek, Karawang, dengan harga total Rp.1,45 juta.
Dia mengembalikan pinjaman Rp.1,2 juta sesuai perjanjian tertulis diatas segel. "Uang tersisa hanya Rp.250.000," ujarnya. Namun, setelah itu pemilik tanah kubung tidak mengizinkan lagi Misa menanam jamur.
Misa akhirnya bertemu dengan pemilik kubung bekas sopir Kedutaan Besar Amerika Serikat. Pemilik kubung itu memang menyerahkan pengelolaan, tetapi tidak meminjamkan modalnya.
Misa kembali kepada rentenir. Tetapi, kali ini hanya ada uang "jalan". Itu sebutan uang pinjaman yang harus dikembalikan secepat mungkin. Jika meminjam Rp.300.000, harus kembali Rp.600.000 dalam delapan hari!
Tanpa berpikir panjang, ia modali empat kubung. Delapan hari kemudian, Misa mampu mengembalikan modalnya kepada tukang pukul yang menagihnya. Dari satu kubung, pinjaman itu lunas selama delapan hari. Tiga kubung lainnya mampu menghasilkan 1 ton jamur merang.
Empat bulan kemudian, dia berhasil membeli empat kubung bersama 1.500 meter lahanya di Tanjungpura, Karawang.

Dibakar warga

Misa memulai kehidupan baru usaha pembibitan dan budidaya jamur merang di tempat itu. Dari empat kubung terus dikembangkan menjadi 12 kubung, dan hasilnya puluhan juta rupiah.
Misa lalu membeli 1 hektar sawah senilai Rp.50 juta tahun 1991 untuk memproduksi jerami. Karena tinggal di lingkungan petani miskin, perkembangan usaha Misa yang sangat cepat itu menimbulkan kecemburuan.
"Kami sudah berpuluh-puluh tahun menanam padi tetap miskin, tapi si jurig supa hanya beberapa bulan sudah kaya raya," kenang Misa menirukan umpatan warga. Mereka pun ramai-ramai membakar kubung-kubung jamur Misa.
"Hati saya hancur saat melihat kepulan asap keluar dari sisa-sisa pembakaran kubung," kata Misa. Ia pun stres dan hampir frustasi menerima peristiwa pada pertengahan tahun 1992 itu. Namun, ia segera bangkit, membangun 30 kubung baru senilai Rp.35 juta dengan uangnya yang tersimpan di dalam drum selama usahanya berbulan-bulan.
Usahanya berkembang pesat karena dibantu puluhan tenaga kerja. Seiring berjalannya waktu, Misa membuka pelatihan magang bagi para calon wira usaha melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Jamur Merang Kelompok Tani Jamur Prima, Karawang.
Misa bercerita mendapat ilmu "perjamuran" itu semasa masih mengajar di ITB, tinggal di Dago bandung Utara. Saat itu dia bertetangga dengan Prof Han, guru besar yang saat itu menjadi dosen tamu mikrobiologi di ITB
Suatu saat, profesor itu harus segera pulang ke negerinya, Jerman. Dia menitipkan buku-buku miliknya yang tak sempat dibawa pulang ke negerinya kepada Misa. "Saya percayakan kepada kamu. Buku-buku ini jangan ssampai keluar karena bersama 40 profesor lain kami sudah disumpah untuk tidak keluar ke negara lain," ujar Prof Han.
Dasar "tukang insinyur sableng", sesudah guru besar pergi, ia melakukan nusumu, mempelajari buku-buku mikrobiologi itu. "Ternyata bahasanya China ssehingga saya harus minta bantuan seorang teman menerjemahkan," kata Misa.
Dari situlah Misa nekat hengkang dari ITB dan menjadi jurig supa hingga sekarang. Dari pusat pendidikannya, kini sudah ratusan orang menjadi pembudidaya jamur diseantero Nusantara.

Dikutip dari KOMPAS, (KAMIS, 10 FEBRUARI 2011)
Setelah sekitar 6 - 7 tahun tidak bertemu, sosok pak Misa Suarsa masih seperti yang saya kenal, salam hangat dari saya. terimakasih.

Minggu, 14 Februari 2010

Usaha Cendol Sagu

Usaha cendol sagu jarang kita temukan, ini adalah usaha yang berpeluang besar karena kebanyakan cendol terbuat dari tepung terigu. Modal yang dibutuhkan juga tidak terlau besar dan persaingan dalam bisnis ini juga tidak terlalu ketat, cendol sagu memiliki keunikan dan rasa yang berbeda dari cendol biasa yang terbuat dari tepung terigu.

Langkah – langkah dan proses kerja yang dibutuhkan :
Melakukan usaha penjualan cendol sagu cukup prospektif, makanan ini menjadi menu tambahan pada waktu bulan Ramadhan dari semua kalangan baik atas, menengah maupun bawah karena harganya yang terjangkau.
Kemudian penjualannya agar menjadi praktis adalah dititipkan ke warung-warung yang ada di sekitar. Jadi si pembeli tidak perlu datang kerumah. Cendol sagu ini memliliki keunikan karena terbuat dari sagu, sagu memliki kabohidrat yang tinggi sehingga jika kita makan sedikit akan merasa kenyang.
Pembuatan cendol sagu tidak terlalu sulit atau repot, untuk membeli bahan baku, memasak dan memasarkannya cukup dilakukan sendiri, dengan begitu campur tangan orang lain terminimalkan baik dalam hal rasa, bentuk dan warna tetap terjaga dan tidak berubah-ubah.

Berapa modal yang dibutuhkan dan untuk apa saja modal tersebut :

  • Membeli alat- alat masak (panci, cetakan cendol, ember) dan kompornya Rp. 500.000,-
  • Membeli tepung sagu 21 Kg untuk 210 bungkus seharga Rp. 73.500,-
  • Minyak tanah 6 Kg seharga Rp. 36.000,-
  • Kantong pelastik ukuran ½ Kg seberat 1 Kg seharga Rp. 25.000,-
  • Pewarna makanan 3 kotak seharga Rp. 4.500,-
  • Karet untuk pengikat ½ Kg seharga Rp. 20.000,- bisa digunakan dalam 8 kali produksi

Total jumlah dana yang di butuhkan untuk memulai usaha ini adalah Rp. 659.000,-

Bentuk Produk :
Cendol yang dihasilkan berwarna hijau pandan dengan sedikit air dan dibungkus dalam plastik, cendol tersebut belum dicampur dengan santan dan gula manis.
Cara penyajian dapat divariasikan dengan campuran yang kita suka, sebagai contoh di campur dengan alfokat, nangka, leci dan lain-lain.

Keuntungan yang didapat dihasilkan dari usaha ini :
Proses penjualannya adalah dititipkan ke warung-warung yang ada di sekitar. Jadi si pembuat membuat 210 bungkus cendol sagu perhari yang di produksi tiga kali produksi pagi, sore dan malam hari dan dalam sela-sela pembuatan yaitu siang hari, cendol sagu didistribusikan ke warung-warung sekiitar jadi pembeli tidak perlu datang kerumah.
Rencana penjualan perbungkus untuk satu ons cendol sagu dengan harga rata-rata Rp 1.000,- dengan modal bahan yang dihabiskan dalam pembuatan cendol tersebut per hari Rp 141.500,- , dan menghasilkan cendol sagu sebanyak 210 bungkus jadi asumsi transaksi penjualan perhari adalah seharga Rp 210.000,- sehingga keuntungan yang diperoleh per hari adalah Rp 210.000 dikurangi Rp 141.500 menjadi Rp 68.500,-

Target penjualan (marketing) dan keuntungan :
Target penjualan 210 bungkus perhari memperoleh keuntungan sebesar Rp 68.500,- jika dikalikan dengan 30 hari, Jadi keuntungan penjualan dalam satu bulan diperkirakan sebesar Rp 2.055.000,-.
Ada peluang untuk menjual cendol sagu dalam bentuk kering dan ini merupakan terobosan baru, cendol sagu basah dijemur hingga kering, bila cendol sagu basah tidak tahan lama dan langsung dikonsumsi keuntungan dari sendol sagu ini akan membuat tahan lama dan bisa di jual keluar kota. Satu kilo gram sagu kering dijual dengan harga Rp 50.000,- dengan asumsi 5 Kg cendol sagu basah yang dijemur akan menjadi 1 Kg cendol sagu kering. Dengan perlakuan seperti itu pemasaran cendol sagu ini akan lebih luas dan keuntungannya lebih besar lagi.
Usaha cendol sagu ini bila dilihat keuntungan perharinya tidak terlalu besar, namun bila dikerjakan dengan tekun dan benar dapat menghasilkan keuntungan yang bagus.

Selasa, 28 Juli 2009

CATATAN PROYEK DI MALUKU UTARA TAHUN 2008

Usaha pangan olahan di Kota Ternate provinsi Maluku Utara adalah merupakan industri rumahan yang sudah tersentrakan diusahakan di dua kelurahan/desa yaitu Falajawa I dan Falajawa II sebagai salah satu upaya pengembangan usaha agroindustri yang dapat menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

Survey di lakukan dengan fokus titik masuk di dua tempat dalam yaitu Falajawa I di Kecamatan Ternate Kota dan Falajawa II di Kecamatan Ternate Selatan, dari survey terkumpul 46 responden terdiri dari 27 IKM dengan Inti 23 Pengusaha Pangan Olahan, 4 IKM Pemasok Bahan Baku , 4 instansi pemerintah, 4 lembaga pembiayaan, 3 lembaga pendamping, 3 koperasi dan 5 UKM terkait.

Di lokasi sentra industri pangan olahan di Falajawa I dan Falajawa II, Kota Ternate, usaha pembuatan pangan olahan dengan berbagai jenis kue mulai dilakukan sekitar tahun 1976 dengan berbagai jenis variant produk antara lain: 1. Bagea, 2. Makroon, 3. Roti, 4. Biskuit, dan 5. Hempes. Para pengusaha menilai usaha ini adalah usaha warisan yang diturunkan dari orang tua tetapi kemudian mereka menilai usaha ini dapat dijadikan penopang dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari hasil survey, terdapat kurang lebih industri inti 23 pengusaha pangan olahan di dua desa yang terletak di dua kecamatan yaitu Falajawa I di Kecamatan Ternate Kota dan Falajawa II di Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, dan diperkirakan dapat menyerap sekitar 80 - 100 tenaga kerja jika masing-masing pengusaha dapat mempekerjakan rata-rata 3 - 5 pekerja. Masing-masing pekerja selain menerima upah berdasarkan bulanan dengan kisaran antara 200 ribu rupiah sampai 600 ribu rupiah pada pekerja dengan keahlian tinggi, pekerja biasanya mendapatkan fasilitas makan siang, minum, atau makan tambahan bila harus lembur.

Modal awal yang diperlukan pengusaha antara Rp 250 ribu – Rp 1 juta tergantung skala usaha dengan catatan forno (tungku pembakaran) tempat untuk pembakaran kue sudah tersedia, satu hal lain yang penting bagi pengusaha tersebut yaitu harus mempunyai uang tunai untuk membayar pekerjanya sebelum menerima pembayaran dari pedagang. Pekerjaan yang dilakukan pembuatan kue (pangan olahan) berbeda – beda tergantung kue atau pangan olahan apa yang akan dibuat, misal untuk membuat bagea kenari biasanya meliputi beberapa tahap, yaitu:

· Memilih dan memilah bahan baku serta bumbu yang akan dipakai;

· Kupas kulit kenari;

· Cuci kenari yang telah di kupas;

· Giling/cincang kenari dalam mesin giling;

· Campurkan kenari, tepung sagu, air, telur dan garam;

· Aduk diatas meja adukan;

· Cetak adonan yang telah bercampur dengan menggunakan alat cetak;

· Susun bagea yang telah dicetak dalam loyang;

· Loyang yang telah berisi bagea dimasukan dan disusun dalam forno (tungku pembakaran) yang sudah dipanaskan oleh kayu bakar.



Menurut survey, diketahui penanggungjawab usaha rata-rata dimiliki oleh perempuan sebagai usaha sampingan untuk membantu suami sehingga kepemilikan usaha mencapai 78% dimiliki wanita.

Serta diketahui tingkat pendidikannya berkisar antara SD sampai dengan SLTA dengan asumsi rata-rata kawin muda dan dijodohkan masih dengan kerabatnya sendiri sehingga didapat sentra pangan olahan di Falajawa I dan Falajawa II merupakan keluarga besar keturunan Arab.

Fasilitas pendukung dirasakan cukup memadai karena responden yang menjawab hal tersebut tidak menjadi hambatan berkisar diatas 69%, adapun untuk tingkat layanan aparat pemerintah, perda serta retribusi/pungutan jawaban bervariasi serta beragam menunjukan ada sedikit hambatan dalam hubungan tersebut juga ditekankan dalam jawaban kualitatif responden yang menunjukan kekurang pedulian sebagian instansi pemerintah pada sektor pangan olahan dengan jawaban mereka pada umumnya adalah pembina sektor ini hanya PERINDAG Provinsi Maluku Utara, instansi lain belum menyentuh sektor pangan olahan ini.

Pemasaran menjadi sedikit hambatan bagi sebagian responden (31%) meskipun akses informasi dirasakan sudah cukup bagus, sistem pengupahan dan skill tenaga kerja relatif tidak menjadi masalah besar bagi para pengusaha pangan olahan di Falajawa I dan Falajawa II hanya yang terekplorasi dari wawancara dengan responden adalah tingkat ketekunan dan keuletan dalam bekerja karena tidak sedikit para pekerja yang sudah mahir membuat olahan makanan tidak bertahan lama.

Sudah terbentuk Kelompok kerja (Pokja) itu telah diberi nama yaitu Kelompok Kerja Klaster Industri Pangan Olahan “Moloku Kei Raha”. Kelompok kerja ini diketuai oleh Bapak Fauzan mewakili pengusaha pangan olahan bagea kenari di Falajawa II. Alamat sekretariat pokja sementara di rumah Ibu Nona, Falajawa II Jl. Alkasas No.1 Kota Ternate. Kelompok kerja Klaster Industri Pangan Olahan “Moloku Kei Raha” melakukan pertemuan secara reguler.


Struktur atau Peta Klaster Industri Pangan Olahan Maluku Utara

Rekomendasi :

  • Buat pelatihan pembuatan kue pada suku/kelompok diluar keturunan Arab tersebut karena mereka terbuka dan pada waktu ini kekurangan untuk tenaga kerja sehingga lokasi magang bisa disebar.
  • Libatkan pokja untuk melatih/instruktur lokal
  • Fungsikan Pokja sebagai wadah untuk membangun kepercayaan, jaringan dan kerjasama dalam masyarakat, sebagai mitra pemerintah, perusahaan dan lembaga lainnya yang konsen dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Juga sebagai lembaga pengembangan agenda tindak kolektif untuk pengembangan ekonomi masyarakat.

Jumat, 17 Juli 2009

BAHAYA ASAP


PENGENALAN SAGU

A. SAGU KECAMATAN MERBAU
Makanan dalam pandangan sosial-budaya, memiliki makna yang lebih luas dari sekedar sumber nutrisi. Terkait dengan kepercayaan, status, prestise, kesetiakawanan dan ketentraman juga sebuah kebanggaan. Di dalam kehidupan komuniti manusia yang bersahaja. Makna tersebut menyebabkan makanan memiliki banyak peranan dalam kehidupan sehari-hari suatu komunitas manusia. Makna ini selaras dengan nilai hidup, nilai karya, nilai ruang atau waktu, nilai relasi dengan alam sekitar; dan nilai relasi dengan sesama. Yang disoroti disini adalah makanan yang menjadi sumber kebanggan serta kekuatan ekonomi masyarakat dan menjadi ke khas-an tersendiri yang patut di banggakan oleh suatu daerah.
Begitupun dengan sagu yang menjadi kebanggaan dan ciri khas di kecamatan Merbau, Merbau merupakan salah satu daerah di provinsi Riau yang potensial untuk pengembangan tanaman sagu dijadikan komoditi utama daerah. Area tanaman sagu di Provinsi Riau seluas 61.759 ha yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 52 344 ha (84, 75 %) dan perkebunan besar swasta seluas 15 415 ha (15,25%) (BPS 2001), lahan sagu terbesar salah satunya di kabupaten bengkalis yaitu 29.776,3 ha dengan produksi sebanyak 446.238 ton/tahun




B. SAGU DAN MANFAATNYA
Sagu menjadi tanaman primadona khususnya dilahan gambut yang memiliki kadar keasaman tinggi , Sagu dapat tumbuh juga dipekarangan rumah penduduk, ditengah kebun karet dan dimana saja. Kualitas sari pati sagu sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kadar air yang berada dilahan tersebut. Kalau dilahan yang jauh dari air biasanya tumbuhnya tidak begitu subur dan kadar sari pati sagunya juga sedikit. Tanaman Sagu yang terdapat di Kecamatan Merbau dan Kecamatan Tebing tinggi sangat dikenal karena kualitas sagunya.
Sagu menjadi tanaman primadona masyarakat tempatan, karena keunikan sagu adalah salah satu tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dan tidak memerlukan penanaman kembali (REPLANTING).

Proses Penanaman
. Untuk menanam sagu tidak perlu lahan yang luas ukuran, biasanya lahan 1 Hektar bisa ditanam 100 – 150 batang sagu
. Calon batang sagu biasa disebut ABOT Sagu diambil dari tanaman induk pohan sagu itu sendiri
Abot sagu yang akan diambil biasanya sudah berumur diatas 1 tahun atau sudah berdaun agak lebar
. Lubang untuk menanam Abot biasanya berukuran 50 x 50 cm, satu lubang biasanya ditanam 2 batang abot, ini menghindari agar anak sagu (abot) bisa hidup minimal 1 rumpun.
. Setelah ditananam supaya anak sagu bisa tumbuh dengan baik, kebun harus dirawat/ditebas minimal 1 kali dalam 3 bulan
. Pada masa usia tanam berumur 1 tahun, baru bisa kelihatan anak sagu akan tumbuh menjadi batang sagu.

Proses Perawatan Kebun Sagu
· Untuk menjaga agar kebun sagu bisa memperoleh hasil penen yang baik, biasanya petani sagu selau menjaga dan memelihara kebun tersebut dari ancaman Api dan tumbuhnya rumput liar atau semak belukar, jika tidak dijaga kebun sagu akan tumbuh tidak sesuai dengan masa panen sagu
· Perawatan kebun sagu 1 kali dalam 3 bulan dengan cara ditebas atau dibersihkan emak dan belukar yang tumbuh disekitar tanaman sagu
· Parit atau pembuangan air harus dijaga agar kebun sagu tetap terjaga pertumbuhannya, dan parit ini juga dapat berfungsi sebagai tempat menyimpan sementara anak sagu yang akan ditanam atau buat proses pengangkutan Tual sagu yang sudah dipanen dihanyutkan ke sungai.

Proses Panen Kebun Sagu
Masa tanam kebun sagu biasanya berumur 8 sampai 10 tahun, ketika ketinggian batang sagu sudah dianggap cukup dan besar batang sagu sudah cukup untuk dipanen atau ditebang. Ketika satu batang sagu ditebang anak sagu akan menyusul induknya dan hanya berjarak satu tahun untuk dipanen.

Proses sagu di Pabrik
· Setelah di Panen, selanjutnya Tual sagu yang sudah dipotong dikelurkan dari kebun dengan cara digolek sampai ke sungai, di sungai tual sagu dirakit selanjutnya dari sungai ditarik ke sungai dengan menggunakan kapal Takbout atau kapal tarik.
· Sampai di pabrik tual sagu dinaikkan dari laut ke pabrik biasanya dengan tenaga manusia dan disusun rapi sebelum dinaikkan ke Konveyor peracik. Sebelumnya tual sagu ini dibersihkan dan kulit sagu (uyung) dikupas terlebih dahulu, setelah bersih baru dinaikkan ke konveyor pembersih.
· Diprosesnya sagu akan melewati beberapa proses penyaringan, atau melewati kube-kube penampung, sebelum sampai ke storage penambung. Sagu yang sudah jadi akan berbentuk bongkahan-bongkahan cetakan di Kube dan distorage terakhir akan dihaluskan sebelum kumpul ditempat penumpukan. Setelah itu sagu yang masih belum begitu kering diangkat manual dengan gerobak dorong dan dijemur dihamparan terbuka .
· Ampas sagu yang disebut Repu dibuang melalui aliran air dan biasanya akan mengalir di bak penampung pembuangan air.

Proses Pengeringan Sagu
Ada dua jenis system pengeringan sagu
1. Pengeringan Alami. Yaitu pengeringan sagu dengan menggunakan sinar matahari , prosesnya sederhana sekali, sagu di jemur ditempat terbuka dibawah panas sinar matahari, biasanya lama penjemuran sampai sagu kering 48 jam atau 2 hari. Kelemahan dari pengeringan alami ini adalah jika hari hujan, proses penjemuran tidak bisa dilakukan
2. Pengeringan dengan menggunakan steam (Uap). Sistim ini semi moderen, karena sudah menggunakan sedikit sentuhan teknologi, Steam (Uap) diperoleh dari proses pembakaaran kulit sagu (Uyung) uap panasnya digunakan untuk proses penjemuran sagu. Proses pengeringan ini akan berlangsung terus menerus tanpa kendala hari hujan ataupun udara lembab. Tempat penjemuran ini dibuat dari cor batu-bata yang berukuran 20 x 8 meter.

Manfaat lain dari sagu
Selain sagu yang bisa dijadikan tepung dan beragam jenis pembuat makanan, pati sagu juga bisa digunakan sebagai bahan baku pada industri kosmetik dan plastik yang ramah lingkungan. Daun sagu, pelepah sagu dan Ampas Sagu (repu) sangat berguna dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
· Daun Sagu yang sering disebut daun Rumbia bisa dibuat atap rumah, di Kecamatan Merbau sebagaian mata pencahrian suku asli Atau suku akit adalah dengan menganyam daun Rumbia untuk dibuat atap rumah, harga 1 sembar atap rumbia yang berukuran 3 x 0.5 m adalah Rp. 4000 dan harga 1 tanding adalah 40000 (1tanding = 10 lembar atap rumbia)
· Ampas sagu (Repu) bisa dibuat jamur Tiram dan juga mempunyai nilai ekonomis
· Uyung sagu atau kulit sagu bisa dijadikan bahan pelapis jalan, dan bisa juga dibuat untuk Pemecah Gelombang atau penahan ABRASI laut, dan juga bisa dibaut aneka kerajina tangan (Craft).
Jadi, di masa depan, sagu akan banyak digunakan untuk keperluan industri, antara lain sebagai bahan pembuatan roti, mie, kue, sirup berfruktosa tinggi, bahan perekat, dan plastik mudah terurai secara alami (biodegradable). Pati sagu juga digunakan dalam industri obat-obatan, kosmetik, kertas, etanol, dan tekstil. Sementara itu, limbah pengolahan sagu dapat digunakan sebagai pakan ternak.

C. TEPUNG SAGU
Berdasarkan nilai gizinya, tepung sagu memiliki beberapa kelebihan ketimbang tepung dari tanaman umbi atau serelia. Menurut Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Departemen Pertanian, tanaman sagu mengandung pati tidak tercerna yang penting bagi kesehatan pencernaan.
Oleh sebab itu, sagu baik digunakan sebagai bahan baku pembuatan mie. Sebab me berbahan tepung sagu lebih sehat daripada mi dari terigu. Menurut peneliti ahli dari Universitas Kochi Jepang, Yoshinori Yamamoto, beberapa varitas sagu mempunyai kadar pati tinggi. Sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai komoditas pengganti beras yang bernilai gizi tinggi.
Tepung sagu kaya dengan karbohidrat (pati) namun sangat miskin gizi lainnya. Ini terjadi akibat kandungan tinggi pati di dalam teras batang maupun proses pemanenannya. Seratus gram sagu kering setara dengan 355 kalori. Di dalamnya rata-rata terkandung 94 gram karbohidrat, 0,2 gram protein, 0,5 gram serat, 10mg kalsium, 1,2mg besi, dan lemak, karoten, tiamin, dan asam askorbat dalam jumlah sangat kecil. Tepung sagu mengandung amilosa 27% dan amilopektin 73%. Kandungan kalori, karbohidrat, protein, dan lemak tepung sagu setara dengan tepung tanaman penghasil karbohidrat lainnya.
Di Papua New Guinea, telah dilakukan serangkaian penelitian tentang studi kelayakan produksi etanol dari tepung sagu. Hasil studi menunjukkan bahwa produksi etanol dari tepung sagu adalah layak. Diperkirakan dari pengolahan 1 kg tepung sagu menghasilkan etanol sebanyak 0.56 liter. Selain tepung sagu, ampas sagu kering dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ampas sagu kering yang diberikan pada ayam pedaging dan peternak dengan takaran 12.5-25.0% dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang buruk. Pemanfaatan ampas sagu kering sebagai pakan ternak akan mengurangi pencemaran lingkungan disekitar tempat pengolahan sagu.
Standar mutu tepung sagu di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3729-1995. Klasifikasi dan standar mutu tepung sagu adalah sebagai berikut:
a) Keadaan
1. Bau: normal
2. Warna: normal
3. Rasa: normal
b) Benda asing: tidak boleh ada
c) Serangga (bentuk stadia dan potongannya): tidak boleh ada
d) Jenis pati selain pati sagu : tidak boleh ada
e) Air (%) : maksimum 13
f) Abu (%): maksimum 0,5
g) Serat kasar (%): maksimum 0,1
h) Derajat asam (Ml NaOH 1N/100 gram): maksimum 4
i) SO2 (Mg/kg): maksimum 30
j) Bahan tambahan makanan (bahan pemutih): sesuai SNI 01-0222-1995
k) Kehalusan,lolos ayakan 100 mesh (%):minimum 95
l) Cemaran logam
1. Timbal (Pb) Mg/kg: maksimum 1,0
2. Tembaga (Cu)Mg/kg: maksimum 10,0
3. Seng (Zn)Mg/kg: maksimum 40,0
4. Raksa (Hg)Mg/kg: maksimum 0,05
m) Cemaran arsen (As)Mg/kg: maksimum 0,5
n) Cemaran mikroba
1. Angka lempengan total koloni/gram: maksimum 106
2. E. Coli APM/gram: maksimum 10
3. Kapang koloni: maksimum 104
Untuk mendapatkan mutu sagu yang sesuai dengan standar maka harus dilakukan beberapa pengujian mutu, yaitu:
a) Cara uji serangga: timbang lebih kurang 25 gram contoh kemudian tekan sampai ketebalan 2-5 mm dengan menggunakan 2 lempeng kaca. Setelah itu diamkan selama 24 jam dan amati permukaan kaca dengan menggunakan kaca pembesar, apakah ada jejak-jejak bekas ulat. Larva, kepompong atau serangga dan potongan-potongannya dengan mengayak contoh, sedang telurnya dilihat mikroskop.
b) Cara uji jenis pati selain pati sagu (granula pati sagu): taburkan sedikit contoh
c) Sedangkan cara uji dengan benda asing, air, SO2, abu, serat kasar dan kehalusan sesuai dengan cara uji makanan dan minuman SNI 01-289-1992; cara uji derajat asam SNI 01-3555-1992; cara uji minyak dan lemak; cara uji cemaran logam dirinci, cemaran logam, cemaran logam raksa (Hg) dan cemaran arsen sesuai dengan SNI 19-2896-1992; cara uji cemaran logam dan cemaran mikroba sesuai dengan SNI 19-2897-1992. pada kaca obyek tambahkan sedikit air, kemudian ratakan, tutup dengan kaca penutup dan amati dengan kaca mikroskop pada pembesaran tertentu.
Bandingkan bentuk granula pati contoh dengan standar bentuk granula pati sagu. Adanya pati selain pati sagu menandakan tepung sagu tersebut dicampur dengan tepung lainnya.

*) diambil dari berbagai sumber

Senin, 28 Januari 2008

SNAPSHOTS PERJALANAN SEORANG PENDAMPING USAHA KECIL

Bagian III Pendamping UKM Jamur Merang

Bismillahirrahmanirrahim

Sebelum saya melanjutkan cerita, terlebih dulu saya ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya mantan presiden HM Suharto mungkin itu menjadi pilihan terbaik bagi beliau atas semua yang terjadi. Tulisan kali ini akan saya isi dengan jawaban atas respon beberapa teman yang menanyakan budidaya jamur merang, namun perlu juga teman-teman ketahui pengalaman saya di jamur merang hanya dari tahun 2003 sampai 2005 dan untuk periode akhir-akhir ini saya dan tim dari PUPUK beserta seorang pakar (suhu klaster industri) Bapak Kawi Boedisetio sedang menginisiasi beberapa daerah dengan pengembangan daya saing daerah melalui pendekatan klaster industri.
Beberapa teman menanyakan kepada saya tentang cara-cara budidaya jamur merang, untuk budidaya jamur merang kita terlebih dahulu harus tahu agroklimat dari daerah yang akan kita bikin tempat budidaya jamur merang karena pertumbuhan jamur merang sangat dipengaruhi temperatur serta iklim dari tempat tumbuhnya tersebut. Prasarat pembudidayaan jamur merang dsalah satunya adalah suhu yang dibutuhkan untuk tumbuh berkisar antara 33-38oC, dengan tingkat kelembaban relatif antara 85-98% serta keasaman (pH) antara 6,8-7,2.
Sebenarnya budidaya jamur merang relatif tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Bahan baku jamur merang yaitu jerami, mudah ditemui di seluruh daerah di Indonesia. Selain itu, pembudidayaan jamur merang tidak membutuhkan lahan yang luas seperti halnya menanam padi. Sedangkan waktu tanam hingga panennya hanya membutuhkan waktu selama kurang lebih satu bulan, sehingga perputaran modalnya juga cepat.
Dalam pembudidayaan jamur merang ada beberapa tahapan kunci antara lain: persiapan (Persediaan dan pemilihan bahan baku); Proses pengomposan (kompos jerami dan komposan untuk bagian atas); Pemasukan komposan (media tanam); Fasterisasi (steaming); Penebaran bibit jamur; Proses pemeliharaan; dan Cara Panen, itu semua akan saya paparkan dibawah ini:

PERSIAPAN PRODUKSI (Persediaan dan pemilihan bahan baku)
Bahan baku disediakan 3-4 bulan sebelum proses budidaya. Untuk jerami sebaiknya diambil dari hasil panen musim kering/gadu, karena jerami dari hasil panen musim gadu dapat mencapai kering maksimal dengan kadar air 14 % sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi jamur merang. Jerami yang diambil sebaiknya sudah dijemur (selama 1 bulan di sawah). Bila memungkinkan jerami di stock untuk kebutuhan 1 tahun. Stock jerami dibuat dalam tumpukan yang berbentuk kerucut tanpa diberi atap, dengan ukuran lebar maksimal 5 meter , panjang dan tinggi disesuaikan dengan jerami yang ada. Dengan susunan seperti ini tetesan air hujan dapat langsung jatuh ketanah dan tidak dapat masuk kedalam tumpukan jerami. Jerami yang digunakan berasal dari varietas IR-42 dan IR 64, dan bila tersedia lebih baik jika menggunakan jerami ketan, karena mengandung banyak selulosa yang dibutuhkan oleh jamur. Pilihlah dedak yang banyak bercampur dengan menir namun tidak ada campuran sekam. Dedak yang baik bila dikepal ditangan akan tetap menyatu walaupun kepalan tangan dilepaskan
PROSES PENGOMPOSAN JERAMI
Persiakan jerami sebanyak 1,2 ton atau 50 pikul/sundung atau 600 ikat dengan panjang tali pengikat 150 cm, dedak 200 kg dan kapur 25 kg
1. Langkah pertama jerami dimasukan kedalam bak perendaman berisi air, kemudian dinjak-injak agar jerami tersebut patah-patah sehingga mampu menyerap air lebih banyak.
2. jerami diangkat dari bak perendaman dengan garu kemudian ditata diatas tanah setebal ± 30 cm setiap lapisan,
3. Komposan jerami dinjak-injak agar lebih padat, dan taburkan kapur secukupnya hingga merata. Kompos jerami disusun dengan lebar ±3 m, panjang ±6 m, tinggi ±1,5 m, usahakan dibuat selurus mungkin, makin tinggi makin baik karena panas komposan akan maksimal.
4. Tutup tumpukan jerami dengan lembaran plastik serapat mungkin agar proses fermentasi berjalan degan sempurna.
PEMBALIKAN KOMPOS JERAMI
1. Setelah 5 hari tumpukan jerami dibongkar dan diuraikan (diuyab) sambil ditaburi dengan dedak sedikit demi sedikit dimulai dengan lapisan yang paling atas dan seterusnya, sampai seluruh jerami teraduk dengan dedak 200 kg. Tahap ini harus dilakukan dengan teliti agar setiap lembar jerami bersentuhan dengan dedak supaya makanan untuk jamur tersedia dengan merata diseluruh media tanam.
2. Bila jerami ada yang kering sebaiknya dibasahi dengan air secukupnya dan tumpukan jerami yang telah tercampur dedak tidak dilakukan penginjakan
3. Tutup kembali tumpukan jerami tadi dengan plastik serapat mungkin.
4. Diamkan tumpukan jerami selama 4 hari supaya fermentasi berjalan sempurna dan siap untuk dimasukan dalam kumbung. Pemasukan kompos sebaiknya tidak lebih dari 4 hari sehingga bahan makanan tidak terurai lebih lanjut.
PENGOMPOSAN BAHAN ATAS
Pengomposan bahan atas dilakukan 1 hari sebelum pengomposan jerami.
1. Siapkan ampas aren sebanyak 3 karung pakan ayam atau kurang lebih 150 kg dalam kondisi kering, dan dedak sebanyak 50 kg serta kapur sebanyak 5 kg.
2. langkah pertama basahi ampas aren dengan air sambil menghancurkan gumpalan-gumpalan supaya lebih halus, kemudian ditata diatas tanah.
3. Ampas aren ditata diatas tanah setebal ± 10 cm setiap lapisan, dan taburkan kapur secukupnya hingga merata. Ampas aren disusun dengan panjang ±1 m, lebar ± 0,8 m, dan tinggi ± 0,5 m,
4. Tutup tumpukan ampas aren dengan plastik serapat mungkin.
5. Komposan ampas aren dibalik.setelah 5 hari atau satu hari sebelum membalik komposan jerami,
6. tumpukan ampas aren dibalik menggunakan garu sambil ditaburi dedak sedikit demi sedikit hingga merata, sampai 50 kg dedak tergunakan semua.
7. Periksalah tumpukan tersebut apabila ada bagian yang kering sebaiknya disiram dengan air setelah selesai tutup kembali tumpukan ampas aren dengan plastik.
8. komposan ampas aren dapat dimasukkan kedalam kumbung setelah 5 hari atau sehari setelah memasukan komposan jerami.
PEMASUKAN JERAMI
SYARAT JERAMI SIAP MASUK
Kompos jerami dimasukkan kedalam kumbung bila sudah mencapai pH 7,2. Berwarna coklat gelap dan bila ditarik berlawanan arah akan mudah putus.
PROSES
Jerami diuyab/diuraikan terlebih dahulu sebelum dimasukan kedalam kumbung. Penyusunan dimulai dari rak yang paling atas bagian pinggir. Buat dua bundelan kompos jerami pada setiap tiang rak yang ada kecuali tiang rak yang menempel pada plastik. Padatkan kompos jerami pada setiap bagian pinggir rak. Bila bagian pinggir dan tiang sudah selesai baru kerjakan menyusun kompos jerami bagian tengah rak.
Komposan diatas rak disusun dengan membentuk 2 guludan(bedengan) sambil diuraikan sehingga tidak padat. Tinggi komposan pada rak pertama dan kedua setebal ± 40 cm, pada rak ketiga dan seterusnya setebal ± 25 cm. Hal ini dimaksudkan agar suhu dalam kumbung merata keseluruh bagian. Usahakan rak paling atas diisi dengan komposan yang agak kering (bila terdapat komposan kering), karena kondosi rak paling atas biasanya sangat lembab.
PEMASUKAN BAHAN ATAS
SYARAT BAHAN SIAP MASUK
Bahan atas dimasukan kedalam kumbung setelah dikompos selama 10 hari dengan ciri-ciri berwarna coklat tua dan menimbulkan bau khas tetapi bukan bau busuk.
PROSES
Proses pemasukan bahan atas hampir sama dengan kompos jerami, lakukan dari rak bagian pinggir paling atas terus kebawah, setelah selesai baru kerjakan bagian tengah. Taburkan sedikit demi sedikit di atas kompos jerami sampai ketebalan ± 0,5 cm. Kemudian bersihkan lantai kumbung dari sisa jerami yang jatuh, setelah selesai tutup rapat semua jendela dan pintu kumbung
STEAM (PASTEURISASI)
PERSIAPAN KUMBUNG
Persiapkan kumbung yang akan di steam sebaik mungkin, periksa dan tambal bagian-bagian yang bocor/bolong, karena apabila kebocoran dibiarkan akan mempersulit kenaikan suhu kumbung, dan gunakan blower besar dengan empat lingkaran karena akan berpengaruh besar terhadap pencapaian suhu yang diharapkan.
PERSIAPAN ALAT STEAM
Persiapankan drum 3 buah yang disusun sejajar dengan posisi rebah, bagian drum yang berlubang/depan diletakkan lebih tinggi dibandingkan belakangnya. Drum tengah agak diangkat 20 cm dan diantara sela drum disusun batubata yang berguna untuk meratakan api yang keluar dari blower. kemudian isi drum dengan air sampai penuh, uap air yang dihasilkan dari drum dialirkan melalui bambu yang dimasukan pada dinding yang sudah dilubangi. Letakkan kedua blower di antara sela-sela drum, tepat di depan batu bata. Kemudian hubungkan tangki minyak 50 liter ke blower dengan kawat tembaga yang diletakan bersama pompa yang telah disiapkan dipinggir susunan drum. Kemudian termometer dipasang pada kumbung yang akan disteam.
PROSES STEAM
Blower dapat dinyalakan setelah semua peralatan telah siap. Lakukan proses pemanasan blower terlebih dahulu agar minyak yang ada didalam lingkaran blower matang (minyak yang masih mentah akan menghasilkan api berwarna merah yang kurang panas), minyak yang sudah matang alirannya dapat dibuka secara perlahan. Bila api telah stabil buka keran aliran minyak secukupnya, sesuai besarnya spuyer. Bila spuyer yang digunakan berukuran kecil, keran minyak dapat dibuka penuh namun bila spuyer berukuran besar keran minyak dibuka secukupnya. Api yang dihasilkan harus berwarna biru dan mengarah kesusunan batubata yang ada dibawah drum. Tekanan angin didalam tangki harus dipertahankan pada kisaran 7 sampai dengan 8 psi. Empat jam pertama suhu kumbung akan mencapai 600C, saat itu ketiga drum harus ditambahkan air sampai penuh dan ditambahkan minyak sebanyak 50 liter kedalam tangki minyak. Empat jam berikutnya suhu akan mencapai 700C, bila suhu tidak tercapai, hentikan steam dan dilanjutakan keesokan hari. Tapi bila mencapai 700C lanjutkan steam dengan menambah air kedalam drum dan minyak sebanyak 50 liter kedalam tangki. Empat jam terakhir pertahankan suhu minimal 700C atau lebih tinggi sampai minyak dalam tangki habis, proses steam selesai.
PENEBARAN BIBIT
KRITERIA BIBIT
Bibit yang akan ditanam harus memiliki kriteria sebagai berikut: bebas kontaminasi, berumur ± 10 hari setelah inokulasi, misellium sudah menyebar sampai dasar log dan kelihatan aktif dan kasar serta sekitar tutup log berwarna merah kecoklatan seperti warna gambir.
PROSES PENEBARAN BIBIT
Setengah jam sebelum penebaran bibit, pintu dan jendela kumbung dibuka terlebih dahulu agar semua gas amoniak sisa steam dapat keluar dari dalam kumbung. Orang yang melakukan penebaran bibit harus bersih, usahakan sebelum menebar bibit mandi terlebih dahulu dan gunakan baju yang bersih serta tangannya dibasuh dengan alkohol 70% agar steril.
Tahap selanjutnya bibit diuraikan didalam kumbung atau tempat steril lainnya. Bila penguraian dilakukan diluar kumbung, usahakan pada saat dibawa bibit tidak terkena sinar matahari langsung . Setelah diuraikan tempatkan bibit dalam ember yang bersih dan tebarkan bibit secara merata ke atas media tanam dimulai dari rak yang paling atas terus kebawah. Untuk media yang paling pinggir dekat plastik, taburkan bibit lebih banyak, karena ketersediaan cahaya dan oksigen relatif memadai. Pada bundelan di tiang rak juga diselipkan bibit pada bagian tengah dan atas. Sementara di bagian bawah pinggir rak yang dipadatkan, bibit disisipkan pada dua tempat disetiap ruas rak. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan media tanam yang tersedia sehingga hasil panen bisa lebih banyak. Setelah selesai tutup rapat pintu dan jendela kumbung.
PEMELIHARAAN
Suhu komposan yang baik untuk produksi budidaya jamur merang berkisar antara 35-38 0C, dan kelembaban berkisar antara 95-98 %. Untuk mempertahankan agar kondisi diatas terpenuhi maka pemeliharaan mutlak diperlukan dan memerlukan perhatian ekstra, karena hal ini merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam produksi jamur merang.
Secara garis besar pemeliharaan terdiri dari penyemprotan, penyiraman, pengaturan pintu dan jendela, serta steam pemeliharaan. Secara visual kita dapat mengamati asap lembut yang mengepul dari media pada saat pagi hari, jika terlihat tanda-tanda ini biasanya suhu kumbung berada ada kisaran 35 0C. Indikasi kumbung kelebihan kelembaban ialah adanya butiran air berwarna coklat seperti kecap jika pada merang yang menggantung pada kolong rak khusunya rak nomor kelima dan keenam. Sedangkan jika kelembaban udara terlalu kering, permukaan media yang kita raba akan terasa tajam (tidak lembut seperti pada saat media komposan di masukkan ke dalam kumbung).
PENYEMPROTAN
Tujuan dari penyemprotan tidak hanya mengendalikan temperatur dan kelembaban lebih penting dari itu adalah menyediakan ketersediaan air untuk pertumbuhan tubuh buah jamur merang. Penyemprotan kumbung untuk musim panas dan musim hujan membutuhkan penanganan yang berbeda karena tujuan kita adalah mengendalikan agar kumbung tetap pada kisaran suhu dan kelembaban serta mengendalikan ketersediaan air yang mungkin sangat jauh berbeda dengan lingkungan disekitarnya.
Indikator untuk menentukan bahwa kumbung sudah saatnya disemprot dapat dilihat dari bambu penyangga rak (waton) yang sudah mulai mengering dan kondisi permukaan kompos yang bila diraba terasa tajam. Pada saat musim panas biasanya waton sangat mudah kering.
Dalam satu siklus produksi jamur merang dibutuhkan beberapa kali penyemprotan, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan kebutuhan lingkungan sekitarnya. Pada saat musim kemarau, penyemprotan pertama bisa mencapai 6 -7 tangki, jika penyemprotan hanya diberikan dalam jumlah sedikit maka akan kesulitan dalam perawatan /penyemprotan berkutnya. Karena besar kemungkinan kumbung selalu terlihat kering. Untuk penyemprotan selanjutnya akan lebih baik jika dilakukan setiap hari sebanyak satu tangki, atau jika penyemprotan berselang satu hari, volume semprot tidak boleh lebih dari dua tangki.
Penyemprotan pertama dilakukan pada saat miselium sudah terlihat putih memenuhi permukaan yaitu antara 3-5 hari setelah tanam. Waktu maksimal penyemprotan pertama adalah lima hari setelah tanam, namun pada musim kemarau miselium biasanya tumbuh lebih cepat, sehingga penyemprotan bisa lebih cepat. Tujuan penyemprotan pertama adalah untuk memutus siklus vegetatif jamur merang yang bila dibiarkan tidak akan membentuk tubuh buah, biasanya tiga hari setelah penyemprotan primordia (rintisan) sudah mulai terbentuk. Waktu penyemprotan sebaiknya jam 10.00 WIB dimana matahari mulai terik, setelah penyemprotan pertama jendela dibuka namun pintu harus ditutup, kemudian setelah pukul 17.00 - 18.00 WIB jendela baru ditutup, sehingga permukaan komposan tidak terlalu lembab karena penguapan air semprotan.
Sedangkan untuk penyemprotan selanjutnya dilakukan diatas jam 16.00 WIB. Setengah jam sebelum penyemprotan, pintu dan jendela dibuka lalu ditutup kembali pukul 23.00 WIB. Jika pada malam hari terjadi hujan sebaiknya jendela dibuka setelah hujan reda. Penyemprotan dilakukan hanya pada bagian depan rak nomor satu dan dua serta bagian tengah sampai rak nomor empat atau nomor lima jika kumbung kita berjumlah enam rak, bagian pinggir dan rak paling atas tidak disemprot karena pada bagian ini biasanya sudah cukup lembab. Pada saat kondisi di luar kumbung sangat panas, maka plastik pada bagian pinggir dapat disemprot masing-masing sebanyak satu tengki, tetapi tidak melakukan penyemprotan pada bagian permukaan komposan.
Pada musim panas, kondisi tengah/jalan dalam kumbung terkadang terlihat kering, sehingga setiap dua hari sekali perlu dilakukan penyiraman sebanyak empat ember.Sedangkan untuk kumbung dengan denah lantai menggunakan batu bata, maka jalan tengan disiram setiap hari sebanyak delapan ember. Kegiatan penyiraman sebaiknya dilakukan sebelum jam 9.00 WIB sehingga pada saat terik suhu kumbung tidak terlalu tinggi. Demikian juga untuk lingkungan sekitar kumbung, bilik luar sebaiknya disiram sehingga lingkungan kumbung menjadi sejuk, penyiraman bisa mencapai 25 ember. Adapun kegiatan penyiraman dalam kumbung bertujuan untuk mempertahankan agar kondisi kelembaban kumbung tetap berada pada kisaran 95-98%.
Penyemprotan pada musim hujan paling banyak 6-8 kali penyemprotan selama proses produksi, biasanya dilakukan dua hari sekali dan disesuaikan dengan kondisi kumbung. Jika waton dan bambu horizontal (bambu penyangga yang menempel pada plastik) masih basah, serta tumpukan komposan yang kita raba terasa lembut maka penyemprotan belum dibutuhkan, tetapi biasanya maksimal 3 hari sudah harus dilakukan penyemprotan meskipun kondisi diluar hujan.
Untuk musim hujan, penyemprotan bisa dilakukan dengan air hangat (campuran 2:3 bagian air panas dengan air dingin) atau jika pertumbuhan miselium sangat lambat maka penyemprotan dapat ditambah gula pasir sebanyak ¼ kg untuk satu tangki (12 ltr) terutama untuk merangsang pertumbuhan misellium pada kolong rak. Arah nozel pada saat penyemprotan menghadap ke permukaan dengan memperhatikan bentuk nozel. Volume semprot maksimal 2 tangki.
Suhu kumbung diatas 39 0C sangat cocok untuk pertumbuhan monelia sp (jamur tempe) dengan ciri-ciri misellium berwarna putih dengan tampilan seperti jamur tempe dan bila sudah tua berwarna ungu serta bila misellium disentuh akan terasa lembut seperti busa deterjen. Kondisi seperti ini sering terjadi pada musim panas atau pada saat pergantian musim. Pada musim seperti ini kita merasa gerah saat tidur.
Jamur monelia sp menyerang atau tumbuh pada rak tiga ke atas, karena suhu pada rak ini lebih tinggi dari pada rak dibawahnya. Pertumbuhan optimum jamur monelia sp sekitar 41 0 C pada suhu komposan (media). Serangan biasanya dimulai pada bagian kolong rak dan mulai menyerang pada malam hari sehingga pada saat musim panas atau perpindahan musim, kumbung harus sering dikontrol pada malam hari yaitu dengan menyenter pada kolong rak. Komposan yang terlalu masak, juga akan meningkatkan resiko terserang jamur monelia sp.
Jendela kumbung yang terserang monelia sp sebaiknya segera dibuka penuh dan jika perlu dipasang ex-house fan diatas pintu dan jangan melakukan penyemprotan sebelum semua bagian yang terserang dibongkar. Apabila kita telat melakukan penanganan atau melakukan kesalahan dalam menanganinya, dalam sehari semua permukaan akan dipenuhi oleh jamur monelia sp sehingga telihat putih.
PENGATURAN PINTU & JENDELA
Pintu dan jendela harus dibuka setengah jam sebelum penyemprotan dilakukan. Khusus setelah penyemprotan pertama pintu langsung ditutup sedangkan jendela ditutup setelah jam 17.00 WIB dengan catatan penyemprotan dilakukan jam 10.00WIB. sedangkan jika penyemprotan dilakukan jam 17.00 WIB (karena kondisi pada hari itu mendung) maka jendela ditutup 6 jam kemudian (23.00WIB).
Pada umur 6 sampai 7 hari setelah tanam miselium sudah tumbuh pada ujung komposan yang menggantung, maka jendela dapat dibuka terus dengan intensitas pembukaan 45 0. Selama masa panen dari umur 10 hari ke atas, khusus untuk musim hujan biasanya jendela dibuka terus dengan intensitas pembukaan 90 0 sedangkan pada musim panas pembukaan jendela harus memperhatikan arah angin, jika angin kencang intensitas pembukaan jendela tidak boleh lebih dari 90 0 sehingga angin yang masuk ke dalam kumbung tidak terlalu banyak.
Pada saat kita melakukan pengecekan rak kelima, jika ada butiran air warna coklat yang menggantung pada kolong rak, maka jendela pinggir dapat dibuka dengan intensitas pembukaan 45 0 hal ini terjadi biasanya pada musim hujan, dan jendela ditutup kembali ± 6 jam, setelah palang dan bambu penyangga plastik terlihat agak kering. Indikator lain pembukaan jendela adalah jika terdapat embun yang menempel pada plastik jendela bagian dalam kumbung dan jendela di tutup kembali apabila plastik sudah terlihat kering.
STEAM PEMELIHARAN
Steam pemeliharaan dilakukan jika suhu kumbung dibawah 300C - 32 0C. Kegiatan ini biasanya dilakukan khusus pada musim hujan. Secara teknis steam pemeliharaan adalah memasukkan uap panas kedalam kumbung yang dialirkan melalui bambu yang dibelah dua dan membuang bagian buku tengah, sementara bagian buku terakhir tidak dibuang, kemudian dirapatkan kembali dan di ikat dengan tali karet. Bambu dimasukkan pada bagian tengah/ jalan dalam kumbung dengan alat ini uap yang dialirkan akan keluar melalui celah belahan bambu sehingga uap terbagi dengan rata.
Dalam steam pemeliharaan air yang kita panaskan cukup sebanyak 50 ltr yang dimasukkan ke dalam drum kecil. Sebagai sumber panas cukup menggunakan bahan bakar minyak tanah sebanyak 10 ltr, biasanya selama satu jam minyak sudah habis. Sebagai patokan suhu kumbung akan naik sampai 36 0 C. sebaiknya steam pemeliharaan dilakukan pada malam hari (pkl. 18.30 WIB). Sebelum steam dilakukan pastikan jendela sudah ditutup rapat dan usahakan pintu tempat memasukkan bambu jangan terbuka lebar. Setelah kegiatan selesai pintu bisa langsung ditutup, sedangkan jendela atas bisa langsung dibuka dan jika perlu tidak usah ditutup kembali, dengan tujuan untuk membuang kelebihan uap air akibat steam pemeliharaan.
PANEN
KRITERIA PANEN
Panen pertama biasanya dilakukan sekitar10 hari setelah tanam. Jamur yang akan dipanen sudah memiliki besar maksimal sesuai kondisi tubuh buah, untuk jamur berukuran besar bagian kepala/tengah sudah lebih menonjol dan untuk jamur berukuran kecil agak berbentuk lonjong dan belum mekar
WAKTU PANEN
Panen dapat dilakukan pada pagi dan sore hari, agar semua jamur dapat dipanen dalam keadaan jamur super, karena tubuh buah jamur belum ada yang sempat mekar.
PROSES PANEN
Proses pemanen harus dilakukan dengan hati-hati. Pada saat panen, uasahakan media tanam jamur jangan sampai terganggu/bergerak, cara untuk menghindari hal tersebut ialah dengan meninggalkan bagian bawah jamur tetap menempel pada media. Hal ini dimaksudkan agar sisa jamur yang telah dipanen bisa menjadi tempat tumbuh misellium baru. Dengan cara ini jamur yang dipanen sudah bersih dan dapat langsung ditimbang tanpa dibersihkan ulang.

Ada yang terlewatkan dalam tulisan diatas yaitu pembahasan mengenai Kumbung (rumah jamur) sebagai tempat penanaman baik dari ukuran, pembuatan maupun pemeliharaannya dan juga cara pembersihan kumbung sehabis proses produksi, baik akan saya lanjutkan pada bagian selanjutnya dalam kegiatan pendamping UKM Jamur merang. Terimakasih.

Tanggal Hijriah

Google Translate

Image Hosted by ImageShack.us Image Hosted by ImageShack.us Image Hosted by ImageShack.us ridwan